"Is this Love ?"
Created By: violla silviana
Untuk pertama kalinya, malam ini aku kembali ke tempat ini, gereja ini, setelah sekian lama akumenghilang dan menghindar dari setiap ibadah pemuda dan pelayanan remaja. Mungkin sudah sekitar tiga tahun sejak terakhir kali aku mengunjungi tempat ini. Agak asing memang melihat segalanya terlihat berbeda. Seketika mataku tertuju pada altar, tempatku dulu, sekitarlima tahu
n yang lalu, pernah diteguhkan menjadi pemuda yang berkomitmen untuk selalu setia pada-Nya. Memori itu sekejap terulang dalam benakku.
***
“Ya, dengan segenap hatiku!” Di hadapan jemaat Tuhan dan Pendeta, dengan lantang aku menjawab kesediaanku untuk menjadi pemuda yang setia mengikut-Nya sampai akhir hidupku. Namaku Ray, seorang pemuda berusia 16 tahunyang sekitar empat bulan lagi, tepatnya pada tanggal 25 Juli, genap berusia 17 tahun. Hari ini adalah hari bersejarah bagiku. Sidi, begitu kami biasa menyebutnya. Masa dimana setiap orang Kristen yang sudah dewasa, mengikrarkan pengakuan percaya kepada Trinitas yang Esa dan memahami segala hal tentang Kristen secara lebih dalam dan lebih detail. Masa dimana kehidupan dewasa seorang Kristen sebagai warga jemaat gereja dimulai. Pada titik inilah kedewasaan iman Kristen dimulai, semua tanggung jawab seorang Kristen diawali.“Makasih Tuhan, mulai detik ini, aku sudah menjadi pemuda. Aku janji akan rajin ibadah pemuda dan pelayanan remaja.” Aku bersyukur pada Tuhan dan berkomitmen dalam hatiku untuk setia melayani Tuhan. Komitmen yang tampaknya akan indah dan mudah untuk dijalani.
***
“Hei, Ray bengong aja lo!” Suara seorang wanitadibarengi dengan tepukan di bahu kiriku mengagetkanku, membuyarkan semua lamunanku.Segera kutolehkan kepalaku untuk melihat sosok yang menepuk bahuku. Sejenak aku terpesona saat kulihat sosok Floren, teman sepelayananku yang sudah sangat lama tak kutemui. Ya, aku dan Floren memang memiliki ladang pelayanan yang berbeda saat aku masihaktif dalam pelayanan dan ibadah di gereja ini. Aku melayani di ibadah remaja, sedangkan Floren memilih pelayanan anak untuk menjadi ladang pelayanannya. Dan sekarang, setelah tiga tahun tak bertemu, dia berdiri di hadapanku dengan penampilan yang tampak lebih dewasa, lebih cantik dan manis dibandingkan saat terakhir kali aku melihatnya.Flo, ya begitulah aku biasa memanggil pemudi cantik bernama lengkap “Florencia Agusta Aprilia” ini. Nama yang sempat membingungkanku saat harus menebak bulan lahirnya. Tapi, ya memang begitulah dia. Namanya benar-benar mewakilkan sifatnya yang memang sulit ditebak. Satu-satunya anak pertama dari empat bersaudara ini terlahir dari keluarga yang sederhana dan ramah. Sifat keluarganya inilah yang membentuknya menjadi sosok yang mudah bergaul dan ramah kepada semua orang. Tidak heran, hampir semua orang di gereja ini mengenalnya.“Eh, elo Flo. Bikin kaget aja lo.” Jawabku setelahbeberapa detik sempat terpaku karena terpesona melihat kecantikannya.“Hahahaha.. Lo juga sih, bengong di depan pintugereja. Ntar kesurupan aja, baru tau rasa lo. Kangak lucu, ntar ada berita di Koran, judulnya, seorang pemuda kesurupan di depan pintu gereja. Hahahaha..” Dia meledekku dan tertawa dengan sangat lepas. Aku yang mendengar candaannya pun jadi ikut tertawa, sambil membayangkan jika benar-benar ada judul berita seperti itu di Koran.Ya, begitulah Floren, selalu punya cara untuk mencairkan suasana. Tak ada yang berubah dari sifatnya sejak terakhir kali aku bertemu dengannya, sekitar tiga tahun yang lalu. Aku yang semula canggung saat kembali ke tempat ini, sekejap tersenyum dan merasa diterima dengan baik. Ya, semua karena sikap Flo yang welcome atas kehadiranku kembali ke tempat ini.“Yaudah yuk, masuk. Ibadah Pemudanya sebentar lagi mulai, tuh.” Ajaknya sambil menarik tanganku sesaat setelah kami berhenti tertawa. Aku mengikuti ajakannya dan masuk ke dalam gereja sambil menatap tangan kiriku yang ditarik oleh tangan kanannya. Aku tersenyum.
***
Dua jam telah berlalu, ibadah telah selesai, kujabat tangan semua teman-temanku yang hadir dalam ibadah ini, tak terkecuali Flo. Dan tiba-tiba bahu kananku ditepuk seseorang bersamaan dengan terdengarnya suara laki-laki menegurku.“Oi, Ray! Kemana aja lo? Apa kabar?” Begitulah suaranya menyapaku. Belum sempat kutolehkan kepalaku untuk melihatnya, sosok itu sudah berpindah ke depanku, berdiri di samping Flo, dan merangkul pundak Flo. Vandy,ternyata dia yang menepuk pundak kananku dan menyapaku tadi.Vandyno Adrianus, begitulah nama lengkap yang tertera pada KTP-nya. Laki-laki kelahiran Jakarta 20 tahun yang lalu ini, adalah teman baikku. Walaupun usianya lebih tua di atasku, tapi dalam hal bersikap, terkadang aku jauh lebih bisa menempatkan diri, kapan saatnya untuk serius dan kapan saatnya untuk bercanda. Tapi terlepas dari hal tersebut, Vandyadalah teman yang baik, sahabat yang bisa diandalkan. Aku pertama mengenalnya sekitar empat hingga lima tahun yang lalu, saat aku dan Vandy sama-sama aktif di pelayanan remaja di gereja ini. Tiga tahun sudah aku tak pernah bertemu dengannya, semenjak aku memutuskan vakum dari pelayananku dan menghindari ibadah pemuda.“Hei Van.. Gak kemana-mana gue, di rumah aja. Biasa lah, sibuk sekolah.. Hahahaha..” Kujawab teguran Vandy dengan alasan ‘sekolah’ untuk menutupi alasan yang sebenarnya. Ya, sekolah memang bukanlah alasan yang sesungguhnya aku menghindarkan diri dari pelayanan remaja dan ibadah pemuda, selama tiga tahun terakhir. Alasan sesungguhnya, biarlah sementara ini, hanya aku dan Tuhan yang tahu.“Pelayanan remaja lagi lah. Besok dateng ya, bantu-bantu nyiapin untuk ibadah remaja. Inget Ray, Matius 6 ayat 33, ‘Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.’ Cari Tuhan dulu Ray, ntar pasti kehidupan lo bakal lebih baik. Andalkan Tuhan untuk memimpin hidup lo, jangan sok bisa hidup tanpa Tuhan, lo.” Vandy mengajakku untuk kembali ke pelayanan remajadan menasihatiku dengan ayat Alkitab dan kata-kata yang dulu sering aku pakai untuk mengajak teman-temanku - termasuk Vandy - untuk tetap setia dan komitmen dalam pelayanan dan ibadah di gereja. Flo yang berada di sampingnya hanya tersenyum mendengar kata-kata Vandy yang sangat diluar dugaan bisa sebijaksana itu.“Ya, Vandy benar. Aku melupakan Tuhan selama tiga tahun terakhir. Aku seolah merasa bisa hidup tanpa Tuhan. Aku tak pernah lagi melibatkan Tuhan dalam setiap masalahku, dalam setiap kehidupanku. Aku melupakan hubunganku, sebagai makhluk ciptaan-Nya, dengan Tuhan, sebagai penciptaku. Aku menyesal Tuhan!! Ampuni aku Tuhan..” Aku berpikir dan merenungkan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Vandy.“Ray!! Kok, malah bengong lo.. Hahaha..“ Flo yang masih berada di samping Vandy, menyadarkanku dari lamunanku.“Eh, iya Flo, Van. Besok pagi gue pasti dateng keibadah remaja kok. Gue mau mulai pelayanan gue lagi.. Thanks ya, kalian udah mau ngingetin gue.” Kataku pada mereka. “Yaudah, gue pulangduluan ya, udah malem nih.” Lanjutku berpamitan pada mereka berdua.“Oke Ray. Hati-hati lo di jalan.” Jawab Flo sambil tersenyum.“Besok pagi jangan lupa dateng lo.” Kata Vandy seolah melanjutkan kata-kata Flo.Aku segera berjalan menuju parkiran gereja menghampiri motorku yang sudah siap mengantarku pulang. Kunyalakan motorku dan segera kutinggalkan gedung gereja untuk menuju rumahku yang berjarak lumayan jauh dari tempat ini.
***
Pagi ini, aku bangun dengan semangat baru. Iya, semangat pelayanan yang dulu pernah ada dalam hatiku, namun perlahan menghilang ditelan masalah yang kuhadapi. Namun hari ini, aku bertekad untuk memulai pelayananku kembali dengan semangat yang sama namun dengan komitmen yang baru. Komitmen untuk tidak lagi kalah dengan masalah yang mungkin saja akan menghambat pelayananku. Kulihat jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 05.15. Masih terlalu pagi memang untuk bersiap-siap memulai pelayananku di ibadah remaja, namun hal tersebut tidak lantas membuatku berniat untuk meneruskan tidurku kembali.Segera kuambil handphone-ku, kusiapkan aplikasi Alkitab digital di dalamnya, dan kubuka buku renungan harian yang menjadi bahan renungan untuk hari ini. Setelah semua kusiapkan, segera kulipat tanganku, kututup mataku, dan mengawali renungan hari ini dengan doa. Sekitar 15 menit berlalu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan yang menjadi bahan renungan hari ini. Tidak lupa segera kuakhiri renungan dengan doa syukur atas penyertaan Tuhan hingga saat detikini. Kembali kutengok jam dinding yang menunjukkan putul 05.43. Segera ku melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk mandi dan mempersiapkan diriku di ‘debut kedua’ pelayananku di ibadah remaja.Waktu terus berlalu, tanpa ku sadari jarum jam telah menunjukkan pukul 07.00. Segera kusisir rambutku mengakhiri rangkaian persiapanku sebelum berangkat ke gereja untuk pelayanan di ibadah remaja. Setelah semuanya siap, aku berniat membangunkan ibuku untuk berpamitansebelum pergi, namun segera kuurungkan niatku setelah kulihat ibu dan adikku masih tertidur dengan lelapnya.“Biarin deh, nanti aja pamitnya lewat sms.” Batinku menggumam.Segera kuambil motorku, kutuntun agak jauh dari rumah agar suaranya tidak mengganggu tidur ibu dan adikku. Setelah kurasa cukup jauh dari rumah, barulah aku starter motorku dan ku kendarai menuju gereja tercinta.Lima belas menit kemudian, aku sudah tiba di gereja, dan pemandangan pertama yang kulihat adalah Flo dan Vandy yang tampak asik berbincang. Mereka tampak sangat akrab dan tampak mesra seperti pasangan yang sedang pacaran. Aku terpaku, menahan perasaan yang aku sendiri tak mengerti sama sekali.“Inikah rasa cemburu? Mungkinkah aku telah jatuh cinta pada Flo? Secepat inikah perasaan ini muncul??” Pertanyaan-pertanyaan tersebut seketika memenuhi otak dan batinku.Namun sesegera mungkin kubuang jauh-jauh pemikiran tersebut. Tak kupedulikan perasaanku, kulupakan kejadian yang baru saja kulihat tersebut dan langsung kulangkahkan kakiku menuju tempat ibadah remaja diadakan. Kutemui rekan-rekan sepelayananku yang mayoritas sudah kukenal. Dan Puji Tuhan, mereka menerimaku, mereka menerima domba tersesat yang telah kembali pulang, dengan sikap positif. Ibadah dimulai, dan aku memulai pelayanku di ibadah remaja ini sebagai petugas doa persembahan setelah ditunjuk oleh ketua pengurus dari pelayanan remaja. Aku tersenyum, merasa nyaman, merasa diterima, dan merasa dihargai di hari pertama pelayananku di ibadah remaja.
***
Setelah rangkaian ibadah selesai, aku segera mengakhiri pelayananku hari ini dengan bersalaman dengan para pelayan remaja lainnya. Puji Tuhan, akhirnya pelayananku hari ini berjalan dengan baik. Segera kulangkahkan kakiku menuju parkiran, menghampiri motor kesayanganku yang akan membawaku kembali ke rumahku tercinta. Baru saja kurogoh saku celanaku untuk mengambil kunci motorku, terdengar teriakan seseorang memanggilku.”Ray, Rayyy..” Begitulah panggilan itu kudengar samar-samar.Kutolehkan wajahku ke arah suara tersebut berasal. Seperti dugaanku, suara itu memang suara Flo. Suara yang sudah terekam di otakku dan tak mungkin bisa kulupakan. Kulihat dirinyaberjalan ke arahku setengah berlari.“Ada apa Flo?” Tanyaku singkat.“Jalan-jalan yuk. Gue ama Vandy rencananya mau jalan-jalan ke Kota Tua nanti sore. Berangkat sekitar jam 3an. Lo bisa ikut kan? Biar rame Ray. Kan seru kalo ke sananya rame-rame.” Kata Flo menceritakan rencananya.“Jalan-jalan? Bertiga? Ah, males banget gue ikut. Yang ada, nanti gue cuma jadi obat nyamuk doang ini mah. Flo sama Vandy enak pacaran. Lah gue, bakalan makin sakit hati gue ngeliat mereka pacaran. Ah mending gue tolak aja deh ajakannya. Maaf ya Flo, gue cuma nggak mau sakit hati.” Aku berpikir dan memutuskan untuk menolak ajakan Floren.“Ray, kok malah bengong? Bisa kan?” Tanya Flo sambil menepuk bahuku.“Eh, ehm, sekarang jam 11 ya? Wah kayaknya gak bisa deh Flo, gue ada acara ulang tahun temen gue, nanti jam 3an juga. Maaf ya Flo. Lo sih, bikin acara dadakan begini.” Jawabku berbohong. “Ehm, kenapa gak ajak pacar lo aja Flo?” Lanjutku memberi saran sekaligus berharap jawaban dan reaksinya akan menguatkan dugaanku bahwa Flo dan Vandy telah resmi jadian.“Owh gitu ya, yaudah deh kalo gitu, ntar gue pergi ama Vandy aja. Lain kali mudah-mudahanlo bisa ikut. Oke deh Ray, kalo gitu gue pulang dulu ya.” Jawab Flo sekaligus berpamitan pulang, tanpa menjawab pertanyaan terakhirku. Namun setelah beberapa langkah berjalan, Flo menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya ke arahku seolah ada hal yang lupa dia sampaikan.“Oia Ray, by the way, I’m single. Jadi gak mungkin juga ngajak pacar.” Kata Flo dengan tersenyum, lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang.Aku terpaku, menyadari kebodohanku. Iya, kebodohanku karena telah menolak ajakan Floren. Padahal kalau saja aku tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan tersebut, pastinyaaku tak akan menolak ajakan Floren. Dan mungkin aku bisa mendapatkan waktu untuk semakin dekat dengannya. Ini semua karena aku salah menduga kedekatan Vandy dan Flo yang kulihat tadi pagi. Dan sekarang, aku harus melewatkan kesempatan untuk mendekati si single Floren. Hanya penyesalan yang tersisa.Kupandang terus tanpa berkedip, Flo yang terusmelangkah semakin jauh. Kubalikkan tubuhku ke arah motorku. Aku berdoa dalam hati, berharap ada keajaiban yang terjadi. Entah apapun bentuk keajaiban itu. Yang pasti, aku berharap Tuhan memberiku kesempatan kedua untukku dapat mendekati Flo.Namun tampaknya, keajaiban itu takkan pernah ada. Kesempatan tidak datang dua kali dan aku telah melewatkannya. Sekali lagi aku menyesalinya. Namun, tiba-tiba kurasakan tepukan di bahu kananku. Kutolehkan kembali kepalaku dan keajaiban itu ada di hadapanku. Iya, Flo, Floren yang menepuk bahu kananku.“Hei, Ray, untung lo belom pulang. By the way, temenin gue ke toko buku yuk? Mau nyari buku buat kado ultah temen gue besok nih. Bisa kan Ray? Mumpung baru jam 11 nih.” Kata Flo sesaat setelah menepuk bahuku. “Soalnya jam 3 nanti kan gue mau ke Kota Tua ama Vandy, dan lo juga kan harus ke rumah temen lo kan?” Lanjutnya kembali.“Bisa, bisa. Bisa kok Flo, bisa banget. Gue juga rencananya mau ke Toko Buku nih. Tapi tadinyaagak males kalo harus pergi sendirian. Untung lo juga mau ke Toko Buku, jadi ada yang nemenin deh. Hehehe..” Jawabku dengan cepat tanpa terlalu lama berpikir.Kesempatan ini takkan kusia-siakan. Terima kasih Tuhan, Engkau sudah memberi kesempatan kedua kepadaku untuk mendekati Flo.Tiga jam berlalu dengan banyak tawa dan canda. Perlahan aku mulai dekat dengan Flo. Banyak hal yang akhirnya membuatku semakin menyukainya. Selain karena Flo adalah sosok yang ramah dan baik, dia juga teman yang asik. Mencintainya? Mungkin. Tapi, entahlah. Akupunbelum mengerti apa yang sebenarnya kurasa. Entah ini cinta, atau hanya rasa rinduku kepada teman yang sudah lama tak kujumpai. Yang pasti, AKU BAHAGIA.
***
Aku berbaring di tempat tidurku, kulirik jam dinding sudah menunjukkan menunjukkan pukul19.37. Pandanganku menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan terkait di kepalaku bagian belakang. Tersenyum mengingat kembali kejadian yang baru saja berakhir beberapa jam yang lalu di Toko Buku. Flo, ya, sosok gadis manis itu mendominasi pikiranku. Menguasai setiap senti ruangan dalam otakku. Ada rasa yang berbeda saat menghabiskan waktu bersamanya di Toko Buku tadi siang. Apakah aku merasakan cinta? Atau hanya kekaguman semata pada sosok sempurna seorang bidadari tanpa sayap tersebut? Entahlah, yang aku tahu, aku tak bisa melepaskan bayangnya dari pikiranku.“Drrrrrrrr… Drrrrrrrr… Drrrrrrr…” Getar handphone-ku yang sengaja aku silent, menyadarkanku darisemua lamunanku. Ku ambil handphone-ku dan kulihat ada tanda pesan Whatsapp yang masuk.Segera kubuka dan kulihat pesan singkat bertuliskan ‘Test’ dari nomor yang belum aku simpan di kontak. Penasaran dengan pengirim misterius tersebut, segera kulihat foto profil darinomor Whatsapp tersebut. Kulihat sosok seorang wanita menggunakan jersey klub sepakbola Inggris yang terkenal dengan julukan ‘Red Devils’ dalam foto tersebut, memakai topi dengan logo yang sama dengan jersey yang dipakainya, dan tersenyum dengan lesung pipi pada kedua pipinya.Seketika aku tersenyum lebar. Bukan karena jersey yang dipakainya, sama sekali bukan. Hal yang tak akan pernah terjadi sampai kapanpun, mengingat aku adalah seorang ‘The Gunners’, sebutan untuk fans setia Arsenal, klub ‘Meriam London’, rival dari klub yang jersey-nya sedang kulihat saat ini. Senyuman lebarku ini, semata-mata hanya teruntuk sang pemakai jersey yang kulihat pada foto profil tersebut. Ya, tidak salah lagi, sosok pada foto tersebut adalah Flo, Florencia Agusta Aprilia, bidadari manis yang baru saja kembali dekat denganku dua hari terakhir.. Segera kusimpan nomor handphone tersebut pada kontakku dan segera kubalas pesan Whatsaap-nya dengan penuh semangat.“Hei Flo? Kenapa lo? Tumben amat nge-Whatsapp gue. Kangen gue ya? Hahahaha.”Begitulah isi pesan yang kubuat agak terkesan bercanda, dan aku yakin dia juga akan memahaminya sebagai candaan. Kutunggu balasan darinya dan sekitar dua menit kemudian ada balasan darinya.“Woy, Ray, ini gue Vandy. Hahahaha.. Ketipu ama foto profil ya lo? Wkwkwk.. Sengaja gue pasang foto Flo, Biar pada tau, kalo gue udah jadian ama Flo tadi sore di Kota Tua. Hahahaha.” Membaca pesan tersebut, bagaikantersambar petir, seketika aku menjadi kacau, kaget, dan semua perasaan campur aduk dalamhati dan pikiranku. ‘What??? Jadian??? Vandy jadian sama Flo?? Temen baik gue, jadian samaFlo? Kenapa harus Vandy? Kenapa harus Flo?? Kenapa??’ Seketika banyak pertanyaan muncul dalam benakku. Kuabaikan getar handphone-ku dan tak ku pedulikan lagi pesan Whatsapp dari Vandy yang dikirimkan selanjutnya.Aku terdiam, merenung, berbaring, dan kembali menatap langit-langit kamar, dengan posisi yang sama seperti sesaat sebelum getar handphone-ku mengusik ketenanganku. Tapi bedanya, sekarang tatapanku kosong, tak ada lagi senyum mengembang, dan pikiranku bukan lagi didominasi oleh Flo. Semua itu sekejap hilang dan digantikan oleh pertanyaan-pertanyaan yang sampai saat inipun tak mampu kujawab. Pikiranku lelah, dan perlahan mataku terpejam. Aku tertidur.
***
Aku terbangun pagi ini dengan pertanyaan-pertanyaan semalam yang masih belum terjawab. Kulihat jam di dinding kamarku yang menunjukkan pukul 5.40. Waktunya aku bersiap-siap untuk sekolah. Tapi entah mengapa, hari inisemangatku menurun, rasa malasku mencapai titik tertinggi, dan tak ada senyum sama sekali. Ingin rasanya aku melanjutkan tidurku dan menghindar dari sekolah hari ini. Kuambil handphone-ku, kupandangi tiga pesan Whatsapp yang tak kubaca semalam. Malas rasanya aku buka pesan tersebut. Kuletakkan lagi handphone-ku lalu kembali kujatuhkan badanku ke atas kasur.“Ray, bangun. Udah pagi nih. Kamu kan harus sekolah pagi, hari ini. Ayo bangun!” Terdengar suara Ibuku memanggil dan membangunkanku. Ya, itu ibuku, my single parent, sosok terpenting dalam hidupku, inspirasi dalam setiap hal yang aku lakukan.Sembilan tahun sudah berlalu, semenjak ibuku harus rela menjadi single parent atas kedua anaknya, aku dan adik perempuanku. Mendidik dan merawat kedua anaknya seorang diri tanpa ayahku yang meninggal semenjak aku duduk di kelas dua SD. Hingga saat ini, aku sudah hampir menamatkan sekolahku di salah satu sekolah negeri di Jakarta. Kenyataan yang sulit diterima oleh ibuku, menjalankan peran seorangibu dan ayah sekaligus, sendirian, tanpa partner.Melelahkan? Pasti. Aku bisa membayangkan hal tersebut. Namun, tak pernah sekalipun aku mendengar ibuku mengeluh. What an amazing mother! Or I can say that she is the best mom inthe world. Berlebihan? Tidak sama sekali, bahkan kata-kata tersebut belum cukup untuk mendeskripsikannya. She is more than the best.No words can express how the best my mother is.“Iya Bu, aku udah bangun kok dari tadi.” Segera kujawab panggilan ibuku.Ku terduduk sebentar di atas kasurku masih dengan perasaan malas yang menyelimuti. Segera ku niatkan diri untuk meninggalkan kasur ini sendirian, dan mengawali hari yang indah ini. Tapi, wait, ada sesuatu yang lupa aku lakukan. Tapi apa ya? Ku berpikir sejenak, mengingat hal yang aku lupakan pagi ini. Beberapa saat kemudian, aku menepuk dahiku dengan tangan kananku, setelah mengingat sesuatu yang hampir saja terlewatkan pagi ini. Doa, ya, hampir saja aku lupa mengawali hari inidengan doa. Segera ku duduk bersila di atas kasurku, kulipat kedua tanganku, kupejamkan mata, dan mulai mengucapkan doaku.“Terima kasih Tuhan, atas penyertaan-Mu sepanjang malam sehingga aku dapat tidur dengan nyenyak. Dan terima kasih juga karena Kau telah ijinkanku kembali bangun pada pagi hari ini dengan keadaan yang sempurna. Maaf Tuhan, kalo semalam aku lupa berdoa sebelum aku tidur. Aku janji tak akan mengulanginya lagi.Terima kasih Tuhan, AMIN.” Aku berdoa dan bersyukur atas berkat-Nya sampai pada detik ini. Tak lupa juga aku mohon ampunannya atas kelalaianku semalam yang tertidur tanpa berdoa.Aku tersenyum, menyadari ada sesuatu yang berbeda setelah aku berdoa. Aku lebih semangat sekarang, menyadari hidupku bukan sekedar memikirkan Flo. Karena yang terpenting untuk dipikirkan dalam hidup, adalah kehidupan itu sendiri. Segera kulangkahkan kakiku, mengawali hari dengan senyum yang tetap lebar, meskipun tak ada yang berubah darikenyataan semalam. Ya, kenyataan bahwa Flo dan Vandy sudah jadian.
***
Jam di handphone-ku menunjukkan pukul 16.47,saat aku tiba di rumah sepulang sekolah. Segera kujatuhkan tubuhku di sofa yang terdapat di ruang tamu, mengistirahatkan tubuhku yang sangat lelah menjalani aktivitas sepanjang hari ini. Kulihat lagi handphone-ku dan masih kulihat tanda pesan Whatsapp yang belum kubuka sejak semalam. Tapi ada yang berubah, ya jumlah pesan yang sebelumnya hanya tiga, kini berubah menjadi angka empat, dan semuanya dari satu nama kontak yang sama. Nama Flo tertera dalam kontak tersebut. Memang nama tersebut belum aku ganti sejak semalam, walaupun aku tahu bahwa nomor tersebut adalah milik Vandy.Sejujurnya aku masih sangat malas membuka pesan Whatsapp tersebut. Ingin rasanya aku langsung menghapusnya tanpa membaca isi pesannya terlebih dahulu. Baru saja aku berniat menghapusnya, tapi handphone-ku kembali bergetar, dan sekejap angka empat berubah menjadi angka tujuh.“What? Tujuh pesan tak terbaca? Ngapain sih Vandy nge-Whatsapp sampe tujuh kali begini? Ah paling mau pamer doang dia. Mentang-mentang udah jadian ama Flo.” Aku bertanya dan menggerutu dalam hati dengan agak jengkel.“Ray, sori. Barusan handphone gue dibajak Vandy.” Kubaca isi pesan pertama yang semalam tidak sempat kubaca. “Lo tau kan Vandy orangnya iseng.” Sambungnya di pesan yang dikirimkan selanjutnya. Lalu dilanjutkan dengan pesan ketiga yang hanya bertuliskan dua kata “Sori yaaa!!”Setelah membaca tiga pesan tersebut, aku semakin penasaran untuk membaca empat pesan selanjutnya. Dan betapa terkejutnya aku, saat melihat pesan keempat sampai dengan ketujuh yang isinya tak pernah kuduga sama sekali sebelumnya. Setelah kubaca keempat pesan terakhir, senyumku kembali mengembang, jantungku kembali berdetak cepat dan otakku semakin penuh dengan bayangan Flo. Aku semakin yakin nomor ini benar-benar milik Flo, dan tampaknya aku memang sedang benar-benar jatuh cinta padanya.Kubaca sekali lagi keempat pesan dari Flo yangterakhir. Pesan pertama bertuliskan ‘Bangun woy, udah pagi!! Hahaha.. Have a nice day!’ Dan diikuti dengan kiriman dua foto dirinya sedang bergaya dengan jersey kebanggaannya berlambang ‘Setan Merah’ dengan dua pose yang berbeda, diakhiri dengan pesan berupa pertanyaan ‘Bagusan yang mana Ray? Mau gue jadiin foto profil Whatsapp nih.’Tak ada yang istimewa memang dari keempat pesan tersebut. Hanya pesan biasa yang sebenarnya bisa saja dianggap tanpa makna apapun. Namun, bagi orang yang sedang jatuh cinta, hal sekecil apapun dari orang yang dicintai bisa dianggap sangat istimewa bagi mereka. Tak terkecuali aku, Raynard Silva , seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada Flo, seorang bidadari manis tanpa sayap.
***
Inikah namanya cinta, inikah cinta. Cinta pada jumpa pertama. Inikah rasanya cinta, inikah cinta. Terasa bahagia saat jumpa, dengan dirinya.Aku terbaring di tempat tidurku, dengan earphone terpasang di telinga, terdengar alunanlagu ME dari earphone yang terhubung dengan MP3 di handphone-ku. Teringat semua kejadian malam itu, kejadian saat ku berjumpa pertama kali dengan Flo, di ibadah pemuda. Tanpa kusadari, aku tersenyum. Tiba-tiba saja aku teringat pesan Whatsapp dari Flo yang sedari tadi belum kubalas.Segera ku ambil handphone yang tergeletak di sampingku, di kasur, tempat ku membaringkan tubuhku saat ini. Segera ku ketik balasan Whatsapp darinya, namun belum sempat kutekan tombol ‘send’, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Vandy. Ada keraguan dalam hatiku untuk menjawab panggilan tersebut, atau membiarkannya sampai terputus sendiri. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menjawabnya.“Hei Ray, sibuk gak lo? Temenin main PS yuk. Gue udah di tempat PS biasa nih.” Kata Vandy dari seberang telepon, sesaat setelah panggilannya kuangkat, bahkan sebelum aku mengucapkan sepatah katapun.“Tapi, Van .. “ Baru saja aku berniat menolaknya dengan alasan yang masuk akal, namun Vandy sudah memotong omonganku.“Pokoknya gue tunggu di sini. Cepet lo dateng. Udah dulu ya, pulsa gue abis nih.” Kata Vandy memotong omonganku, dan panggilan telepon darinya langsung terputus.“Dasar Vandy, belom sempet gue ngomong, udah nyerocos aja dia.” Aku menggerutu dalam hati karena kejadian yang baru saja terjadi.Segera ku bangkit dari tempat tidurku, dan bersiap untuk ke rental PS, tempat aku dan Vandy biasa bermain PS. Malas, ya, sebenarnyaaku malas untuk keluar rumah malam ini, tapi ya sudahlah, toh besok hari libur, jadi aku tak perlu takut bangun kesiangan. Segera kukendarai motor kesayanganku menuju tempatrental PS yang berjarak 10 menit perjalanan darirumah.
***
Sesampainya di rental PS, segera kuhampiri Vandy yang sedang bermain sendiri di depan TV no 6 yang berada di ujung sebelah kanan. Kutepuk bahu kanannya, tapi bukan untuk menghipnotis, hanya untuk sekedar menyapa Vandy yang sedang sangat serius bermain PS.“Woy Van. Serius amat.” Kataku mengagetkannya bersamaan dengan tepukan dibahu kanannya.“Oi Ray, ngagetin aja lo. Jadi kebobolan kan tuh.” Katanya yang sedang bermain game FIFA edisi terbaru, menggunakan klub Arsenal, yang juga menjadi klub favoritnya.“Hahaha.. Santai Van, masih unggul 2-1 kan. By the way, tumben amat, lo ngajakin gue main PS. Kenapa lo?” Tanyaku pada Vandy dengan agak sedikit curiga.“Lo gak suka Flo kan Ray?” Tiba-tiba pertanyaanitu meluncur dari mulut Vandy. Diletakkannya joystick PS yang masih di tangannya, Vandy menolehkan kepalanya dan menatapku dengan wajah sangat serius, lalu mengulangi pertanyaan yang sama, dengan intonasi bicara yang lebih serius. “Ray, lo gak suka ama Flo kan?”Aku terdiam. Aneh rasanya mendengar pertanyaan tersebut dari mulut sahabatku. Pertanyaan sederhana itu mengacaukan isi otakku. Entah apa yang harus ku jawab. Aku bingung. “This condition makes me so confused. I don’t know what I have to do. God, please help me.”“Ray, jawab dong. Malah bengong. Lo gak suka ama Flo kan? Lo cuma anggep Flo,temen doangkan?” Tanya Vandy sekali lagi, dengan nada bicara yang agak lebih tinggi.“Hah? Kenapa Van? Flo? Ya gak lah. Aneh banget pertanyaan lo. Kenapa tiba-tiba lo nanyagitu? Lo suka ama Flo?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.Entah kebodohan apa lagi yang aku lakukan. Mengapa mulut ini tak mampu berkata jujur. Andai saja aku mampu mengulang waktu, tentu aku akan memilih untuk jujur. Sayangnya, waktuterus berjalan tanpa mampu diulang. Sekarang, aku hanya bisa berharap, semoga dugaanku tentang rasa suka Vandy terhadap Flo semuanya salah.“Gak apa apa sih Ray. Sebenarnya sih, iya, gue suka ama Flo. Tapi kemarin waktu jalan-jalan berdua di Kota Tua, Flo tuh nanyain tentang lo terus. Kayaknya dia suka ama lo deh. Tadinya sih, kalo emang lo suka ama Flo juga, ya gue akan coba relain Flo buat lo dan gak akan deketin Flo lagi. Tapi, untungnya lo gak suka ama Flo, jadi gue masih punya kesempatan buat deketin Flo deh. Ya kan Ray?” Kata Vandy menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya kepadaku.Aku tak mampu berkata-kata. Semuanya sudah terlambat, tak ada yang mampu kulakukan selain diam dan diam. Sampai akhirnya Vandy melanjutkan omongannya tentang rencananya.“Eh, Ray, by the way, besok libur kan ya? Gue mau ngajakin Flo buat ketemu ah. Gue mau nembak dia.” KatanyaBagaikan disambar petir, aku terkejut dan semakin merasa terluka. Entah apa yang harus kulakukan. Lagi-lagi aku hanya bisa diam, tanpakata, menahan setiap rasa sakit yang sedang membelenggu hatiku, saat ini. Ya, kenyataan ini perlahan membunuhku. Dan penderitaanku tak berakhir sampai di sini. Kejutan berlanjut saat Vandy kembali mengatakan kalimat selanjutnya.“Oia, Ray, lo besok temenin gue buat ketemuan ama Flo ya. Bantuin buat ngeyakinin Flo kalo gue bener-bener serius sayang ama dia. Ntar gue traktir deh, kalo lo berhasil bantuin gue ngeyakinin Flo. Hehehehe.. Gimana? Mau kan?” Lanjutnya.Aku hanya mengangguk pelan, tanpa daya. Aku terdiam, seolah ribuan pisau sekejap menusuk hatiku. Sakit rasanya mengetahui yang akan terjadi. Aku tertegun, tatapanku kosong, menyadari kebodohanku membuatku kehilangan segalanya. Entahlah, aku gila, otakku penuh, hatiku menangis. Tapi, semuanyasudah terjadi. Aku sadar, aku bodoh. Andai saja aku jujur. Dan sekarang, andai hanya akan tetapmenjadi andai, kenyataannya telah terjadi.“Woi Ray! kok malah bengong. Yuk main. Gue pake Arsenal ya.” Kata Vandy membuyarkan pikiranku.“Eh. Kenapa Van? Oh iya, gue pake Juventus aja.” Kataku berusaha menyembunyikan kegundahanku.Mataku menatap layar TV, tanganku menekan joystick PS, tapi otakku belum selesai memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Andai saja, andai saja, dan andai saja. Ya, otakku masih berandai-andai walaupun aku tahu, aku baru saja menghancurkan semua mimpiku.
***
Malam ini aku hanya dapat berdoa semoga yang baru saja terjadi hanya mimpi. Namun akusadar, aku tak bisa lari dari kenyataan. Kenyataan bahwa besok aku harus memperjuangkan Flo. Iya, memperjuangkan Flo,tapi bukan untuk menjadi milikku, melainkan untuk menjadi milik Vandy, teman baikku,Ada kebimbangan dalam diriku antara harus membantu Vandy mendapatkan cinta Flo, atau menghancurkan pertemananku dengannya dan berjuang untuk perasaanku sendiri. Entahlah, otakku sudah terlalu lelah untuk memikirkan haltersebut. Biarlah semuanya terjadi begitu saja, besok. Perlahan mataku tertutup dan akhirnya aku tertidur.
***
“Flo, sebenernya, gue sayang banget ama lo. Lo mau gak jadi pacar gue?” Vandy berlutut di depan Flo, menengadahkan kepalanya ke arah wajah Flo, menatap matanya sangat dalam, danmemegang setangkai mawar merah dengan kedua tangannya. Berharap Flo mau menerima cintanya.Semua adegan itu tersaji di depan mataku. Sederhana memang, hanya dengan setangkai bunga. Tapi cukup membuatku terluka, membuat hatiku merasa teriris dan merasakan kesakitan yang tak terbatas, tak mampu terungkapkan dengan kata-kata.Vandy mengalihkan pandangannya ke arahku, memberiku kode untuk meyakinkan Flo agar mau menerima Vandy menjadi kekasihnya. Aku menarik nafas, berusaha menyembunyikan setiap kesakitan yang ada. Di tengah kebimbangan yang ada, aku mampukan diriku untuk berkata-kata.“Iya Flo, Vandy beneran sayang banget ama lo. Dia sering cerita ke gue tentang perasaannya kelo. Dan gue yakin dia serius sayang ama lo.” Kata-kata itu keluar dari mulutku.Vandy tersenyum, merasa puas dengan semua kata-kata yang keluar dari mulutku. Kulihat matanya memohon kepadaku untuk melanjutkan kata-kata yang akan membuat Flo semakin yakin untuk menerima cintanya.“Tapi,” Aku melanjutkan kata-kataku. “Tapi, gue juga sayang ama lo Flo. Kita emang baru deket lagi selama beberapa hari ini. Tapi setiap detik waktu yang gue jalani bareng lo, adalah detik-detik yang istimewa buat gue. Setiap tawa yang gue lalui bersama lo, adalah tawa terindah dalam hidup gue, dan setiap senyum yang gue lihat dari bibir lo, adalah senyum termanis yang pernah gue lihat selama gue hidup. Gue tahu ini terlalu cepat, tapi gue gak bisa bohongin perasaan gue. Gue sayang ama lo, gue cinta ama lo.” Aku menarik nafas, menahan setiap dilema yang ada. Kualihkan pandanganku ke arah Vandy.“Van, gue tahu ini mungkin gak adil buat lo. PDKT lo berbulan-bulan, gue rusak hanya dengan PDKT gue yang cuma beberapa hari. Tapi, sekarang biarkan Flo yang memilih antara gue atau lo. I know, I’m not a good friend, but sorry, gue gak bisa bohongin perasaan gue. Guejuga sayang ama Flo, gue sayang banget ama Flo. Sori Van, gue…”“Ray, sejahat itukah lo? Nikung temen baik lo demi kesenengan lo sendiri? Lo pikir, PDKT lo yang cuma beberapa hari, cukup untuk membuat gue mengalihkan perasaan gue? Lo salah Ray, satu-satunya cinta yang gue punya sekarang, cuma buat Vandy. Dan jujur, gue kecewa ama lo. Gue pikir lo temen yang baik buat gue dan Vandy. Tapi ternyata, lo cuma sampah yang gak pantes dianggap temen.” Kata Flo memotong kata-kataku.“Flo bener Ray. Lo gak pantes dianggap temen. Padahal gue udah percaya banget ama lo, untukbantuin gue ngeyakinin Flo. Tapi ternyata lo malah berusaha ngerebut Flo dari gue. Gue kecewa Ray.” Vandy menimpali kata-kata Flo.“Udah Van, mending kita pergi aja yuk. Percumangomong ama sampah yang bisanya cuma jadi pengkhianat” Kata Flo sambil menggandeng lengan kanan Vandy dan pergi meninggalkanku sendiri.Aku berdiri, terpaku, terdiam. Meresapi setiap kata-kata yang baru saja kudengar dari kedua temanku tersebut. Pikiranku kacau, otakku penuh, dan aku tak tahu harus berkata apa. Air mataku perlahan menetes, menyadari semua hal yang baru saja terjadi.“Rayy...Ray ..” Kudengar suara ibuku memanggil. Kucari arah suara itu, tapi tak kutemukan sosok Ibuku.
***
“Ray .. bangun Ray .” Kembali kudengar suara ibuku. “Udah siang, cepet bangun.” Lanjut suaraibuku. Tubuhku terasa diguncangkan dengan lembut. “Bangun Ray, ada telepon tuh dari Vandy” Lanjut ibuku.Aku membuka mata, tersadar dari semua mimpiburukku. “Untunglah itu semua hanya mimpi. Puji Tuhan, itu bukan kenyataan.” Kataku dalam hati, bersyukur bahwa yang baru saja aku alami,bukanlah kenyataan.“Iya Bu.” Jawabku singkat. Segera aku bangun dan menuju ruang tamu untuk menjawab telepon dari Peter.“Kenapa Van?” Kuambil gagang telepon dan kutanyakan tujuan Vandy meneleponku.“Ray, lo baru bangun? Cepet lah siap-siap sana. Katanya mau bantuin gue nembak Flo.” Jawab Vandy dari balik telepon.Mataku yang sedari tadi masih belum sepenuhnya terbuka, tiba-tiba terbelalak mendengar kata-kata Vandy. Rasa sakit itu kembali muncul. Kebimbanganku kembali datang, dan bayang-bayang mimpi buruk itu kembali hadir. Entah, apa yang harus ku perbuat. Aku kehabisan akal. Aku terpaku sesaat, terdiam, dan tak berkata-kata.“Woy, Ray! Kok diem?” Lanjut Vandy, mengagetkanku.“Eh, iya Van, iya.” Hanya kata-kata itu yang keluar daari mulutku.“Yaudah, gue tunggu di gereja ya, jam 10. Gue udah janjian ama Flo buat ketemu di gereja. Yaudah, udah dulu ya. Pulsa gue habis.” Lanjut Vandy, lalu memutus panggilan teleponnya.Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 08.30. Masih ada waktu untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke gereja, sebelum hatiku benar-benar tersakiti, sebelum semua mimpiku beberapa hari ini hanya sekedar menjadi mimpi,dan sebelum aku harus benar-benar membunuhsemua rasaku untuk Flo. Aku menghela nafas, mencoba tersenyum dalam kesedihan hati yangamat luar biasa.
***
“Flo, tempat ini yang menjadi awal dimana perasaan ini muncul. Tempat ini juga yang menjadi tempat dimana perasaan gue bertumbuh, dari sekedar suka menjadi perasaansayang yang luar biasa. Dan gue selalu memimpikan, tempat ini juga yang akhirnya menjadi akhir bahagia dari setiap perjuangan gue, dari setiap tetes peluh yang menetes dalam setiap usaha gue untuk mendapatkan cinta sejati. Flo, gue sayang ama lo. Gue beneran sayang banget ama lo. Lo mau kan jadipacar gue?” Kata Vandy sambil berlutut, memegang setangkai mawar merah, dan menatap mata Flo, dengan penuh harap.Pemandangan di depan mataku ini, sama sekalitak asing untukku. Iya, adegan ini sangat mirip dengan apa yang aku lihat dalam mimpi burukku. Sama persis bahkan, jika aku melanjutkan dengan kata-kataku yang di dalam mimpiku. Tapi, apakah akan berakhir dengan cara yang sama juga? Entahlah, kebimbanganku kembali muncul, antara harus mengalah, atau memperjuangkan cintaku dengan resiko yang sudah tampak dalam mimpiku. Sampai akhirnya…..Vandy menatap ke arahku. Tidak berkata apapun memang. Namun tatapan itu dengan jelas mengatakan “Ray, please make her sure toaccept me to be her boyfriend.”Aku mengerti maksud Vandy. Aku bingung, bimbang, galau. Teringat kembali setiap konsekuensi yang terjadi dalam mimpiku. Entahlah, apa aku harus meresikokan diriku untuk kehilangan kedua temanku ini demi memperjuangkan cintaku, atau aku harus melupakan semua perasaanku, dan merelakan mereka menjadi sepasang kekasih.Aku, untuk kesekian kalinya, menghela nafas, berharap ini semua hanya mimpi, dan itu berarti,aku berharap mimpi yang tadi, adalah mimpi dalam mimpi, iya mimpi berlapis. Agak aneh memang harapanku yang satu ini. Tapi, aku tersadar, kali ini bukanlah mimpi. Aku harus segera mengambil keputusan untuk membantu Vandy mendapatkan cintanya atau memperjuangkan Flo untuk diriku sendiri. Akhirnya kuputuskan untuk mengorbankan perasaanku.”Iya Flo, Vandy bener. Dia beneran sayang ama lo. Dan gue yakin, lo berdua bakalan jadi pasangan yang serasi.” Kataku mencoba meyakinkan Flo.Walaupun agak berat rasanya mengatakan hal tersebut di depan gadis yang aku sayang. Tapi aku harus melakukan hal tersebut. Aku tak mau merusak pertemanan yang ada. Aku takut mimpiku menjadi kenyataan. Aku tersenyum, mencoba menutupi semua ketidak relaanku.“Van, sekarang gue yakin, lo beneran sayang ama gue. Walaupun perasaan gue sebenernya belom bisa sayang sepenuhnya ama lo, tapi gueakan berusaha untuk belajar buat sayang ama lo. Gue mau jadi pacar lo Van.” Jawab Flo menerima cinta Vandy.Hatiku hancur mendengar kata-kata tersebut. Namun tak ada yang mampu kulakukan selain tersenyum melihat kebahagiaan mereka berdua.Terpaksa tersenyum? Mungkin. Tapi aku tak pernah menyesali hal yang baru saja kulakukan.Setidaknya aku telah berbuat satu kebaikan untuk temanku.“Ray , thanks ya. Udah bantuin gue ngeyakinin Flo buat nerima cinta gue. Lo emang teman gue yang paling baik. Traktirannya besok ya Ray. Hehehehe…” Kata Vandy sesaat setelah menghampiriku dan menepuk bahuku. Aku hanya bisa tersenyum tanpa kata.
“Flo,jalan-jalan yuk. Gue mau ngerayain hari jadian kita. Hehehe….” Kata Vandy kepada Flo.Flo mengangguk, lalu berkata, “Boleh Van, tapi anterin gue pulang dulu ya. Mau ganti baju dulu nih.”“Oke.” Jawab Vandy singkat.Vandy menggandeng mesra Flo, meninggalkanku sendiri. Aku hanya bisa melihat mereka semakin jauh dan jauh. Namun, tiba-tiba langkah mereka terhenti. Flo berbalik, menghampiriku dan meninggalkan Vandy sendirian. Entah apa maksudnya.“Ray, makasih ya. Lo udah meyakinkan gue untuk menerima orang yang sayang sama gue. Walaupun gue tau, perasaan gue ini bukan untuk Vandy. perasaan gue ini, sebenernya untuk orang yang dari dulu gue sayang tapi sempat menghilang dan baru ketemu lagi beberapa hari ini. Tapi buat gue, It’s better to be loved by someone than loving someone who never love me.” Kata Flo sambil memegang tanganku.Kulihat matanya berkaca-kaca. Aku menyesal harus membuatnya terluka. Kupikir, hanya akan ada satu hati yang terluka, tapi aku salah. Ternyata hanya ada satu hati yang bahagia. Dan mungkin ketiga hati akan terluka jika Vandy tahu apa yang terjadi. Tapi semuanya sudah terjadi dan aku harus ikhlas menghadapi ini semua.Flo mengecup pipi kananku dan langsung berlari meninggalkanku untuk kembali menghampiri Vandy. Sekali lagi, aku hanya bisa menatap mereka berjalan semakin menjauh. Aku sadari sekarang, kenyataan hidup tak seindah FTV yang selalu berakhir bahagia. Mungkin kalau ini adalah FTV, aku bukanlah peran utama. Aku hanyalah peran pelengkap yang ada hanya untuk patah hati di akhir cerita.Aku tersenyum, mengingat semua hal yang barusaja kulalui. Aku memang tak mendapatkan Flo untuk jadi kekasihku. Tapi setidaknya aku belajar bagaimana cara menghargai pertemanan, bagaimana seharusnya kejujuran diungkapkan, dan bagaimana cinta tak harus memiliki. Inilah hidup, penuh misteri, dan masih akan banyak misteri di masa depan. :)
Created By: violla silviana
Untuk pertama kalinya, malam ini aku kembali ke tempat ini, gereja ini, setelah sekian lama akumenghilang dan menghindar dari setiap ibadah pemuda dan pelayanan remaja. Mungkin sudah sekitar tiga tahun sejak terakhir kali aku mengunjungi tempat ini. Agak asing memang melihat segalanya terlihat berbeda. Seketika mataku tertuju pada altar, tempatku dulu, sekitarlima tahu
n yang lalu, pernah diteguhkan menjadi pemuda yang berkomitmen untuk selalu setia pada-Nya. Memori itu sekejap terulang dalam benakku.
***
“Ya, dengan segenap hatiku!” Di hadapan jemaat Tuhan dan Pendeta, dengan lantang aku menjawab kesediaanku untuk menjadi pemuda yang setia mengikut-Nya sampai akhir hidupku. Namaku Ray, seorang pemuda berusia 16 tahunyang sekitar empat bulan lagi, tepatnya pada tanggal 25 Juli, genap berusia 17 tahun. Hari ini adalah hari bersejarah bagiku. Sidi, begitu kami biasa menyebutnya. Masa dimana setiap orang Kristen yang sudah dewasa, mengikrarkan pengakuan percaya kepada Trinitas yang Esa dan memahami segala hal tentang Kristen secara lebih dalam dan lebih detail. Masa dimana kehidupan dewasa seorang Kristen sebagai warga jemaat gereja dimulai. Pada titik inilah kedewasaan iman Kristen dimulai, semua tanggung jawab seorang Kristen diawali.“Makasih Tuhan, mulai detik ini, aku sudah menjadi pemuda. Aku janji akan rajin ibadah pemuda dan pelayanan remaja.” Aku bersyukur pada Tuhan dan berkomitmen dalam hatiku untuk setia melayani Tuhan. Komitmen yang tampaknya akan indah dan mudah untuk dijalani.
***
“Hei, Ray bengong aja lo!” Suara seorang wanitadibarengi dengan tepukan di bahu kiriku mengagetkanku, membuyarkan semua lamunanku.Segera kutolehkan kepalaku untuk melihat sosok yang menepuk bahuku. Sejenak aku terpesona saat kulihat sosok Floren, teman sepelayananku yang sudah sangat lama tak kutemui. Ya, aku dan Floren memang memiliki ladang pelayanan yang berbeda saat aku masihaktif dalam pelayanan dan ibadah di gereja ini. Aku melayani di ibadah remaja, sedangkan Floren memilih pelayanan anak untuk menjadi ladang pelayanannya. Dan sekarang, setelah tiga tahun tak bertemu, dia berdiri di hadapanku dengan penampilan yang tampak lebih dewasa, lebih cantik dan manis dibandingkan saat terakhir kali aku melihatnya.Flo, ya begitulah aku biasa memanggil pemudi cantik bernama lengkap “Florencia Agusta Aprilia” ini. Nama yang sempat membingungkanku saat harus menebak bulan lahirnya. Tapi, ya memang begitulah dia. Namanya benar-benar mewakilkan sifatnya yang memang sulit ditebak. Satu-satunya anak pertama dari empat bersaudara ini terlahir dari keluarga yang sederhana dan ramah. Sifat keluarganya inilah yang membentuknya menjadi sosok yang mudah bergaul dan ramah kepada semua orang. Tidak heran, hampir semua orang di gereja ini mengenalnya.“Eh, elo Flo. Bikin kaget aja lo.” Jawabku setelahbeberapa detik sempat terpaku karena terpesona melihat kecantikannya.“Hahahaha.. Lo juga sih, bengong di depan pintugereja. Ntar kesurupan aja, baru tau rasa lo. Kangak lucu, ntar ada berita di Koran, judulnya, seorang pemuda kesurupan di depan pintu gereja. Hahahaha..” Dia meledekku dan tertawa dengan sangat lepas. Aku yang mendengar candaannya pun jadi ikut tertawa, sambil membayangkan jika benar-benar ada judul berita seperti itu di Koran.Ya, begitulah Floren, selalu punya cara untuk mencairkan suasana. Tak ada yang berubah dari sifatnya sejak terakhir kali aku bertemu dengannya, sekitar tiga tahun yang lalu. Aku yang semula canggung saat kembali ke tempat ini, sekejap tersenyum dan merasa diterima dengan baik. Ya, semua karena sikap Flo yang welcome atas kehadiranku kembali ke tempat ini.“Yaudah yuk, masuk. Ibadah Pemudanya sebentar lagi mulai, tuh.” Ajaknya sambil menarik tanganku sesaat setelah kami berhenti tertawa. Aku mengikuti ajakannya dan masuk ke dalam gereja sambil menatap tangan kiriku yang ditarik oleh tangan kanannya. Aku tersenyum.
***
Dua jam telah berlalu, ibadah telah selesai, kujabat tangan semua teman-temanku yang hadir dalam ibadah ini, tak terkecuali Flo. Dan tiba-tiba bahu kananku ditepuk seseorang bersamaan dengan terdengarnya suara laki-laki menegurku.“Oi, Ray! Kemana aja lo? Apa kabar?” Begitulah suaranya menyapaku. Belum sempat kutolehkan kepalaku untuk melihatnya, sosok itu sudah berpindah ke depanku, berdiri di samping Flo, dan merangkul pundak Flo. Vandy,ternyata dia yang menepuk pundak kananku dan menyapaku tadi.Vandyno Adrianus, begitulah nama lengkap yang tertera pada KTP-nya. Laki-laki kelahiran Jakarta 20 tahun yang lalu ini, adalah teman baikku. Walaupun usianya lebih tua di atasku, tapi dalam hal bersikap, terkadang aku jauh lebih bisa menempatkan diri, kapan saatnya untuk serius dan kapan saatnya untuk bercanda. Tapi terlepas dari hal tersebut, Vandyadalah teman yang baik, sahabat yang bisa diandalkan. Aku pertama mengenalnya sekitar empat hingga lima tahun yang lalu, saat aku dan Vandy sama-sama aktif di pelayanan remaja di gereja ini. Tiga tahun sudah aku tak pernah bertemu dengannya, semenjak aku memutuskan vakum dari pelayananku dan menghindari ibadah pemuda.“Hei Van.. Gak kemana-mana gue, di rumah aja. Biasa lah, sibuk sekolah.. Hahahaha..” Kujawab teguran Vandy dengan alasan ‘sekolah’ untuk menutupi alasan yang sebenarnya. Ya, sekolah memang bukanlah alasan yang sesungguhnya aku menghindarkan diri dari pelayanan remaja dan ibadah pemuda, selama tiga tahun terakhir. Alasan sesungguhnya, biarlah sementara ini, hanya aku dan Tuhan yang tahu.“Pelayanan remaja lagi lah. Besok dateng ya, bantu-bantu nyiapin untuk ibadah remaja. Inget Ray, Matius 6 ayat 33, ‘Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.’ Cari Tuhan dulu Ray, ntar pasti kehidupan lo bakal lebih baik. Andalkan Tuhan untuk memimpin hidup lo, jangan sok bisa hidup tanpa Tuhan, lo.” Vandy mengajakku untuk kembali ke pelayanan remajadan menasihatiku dengan ayat Alkitab dan kata-kata yang dulu sering aku pakai untuk mengajak teman-temanku - termasuk Vandy - untuk tetap setia dan komitmen dalam pelayanan dan ibadah di gereja. Flo yang berada di sampingnya hanya tersenyum mendengar kata-kata Vandy yang sangat diluar dugaan bisa sebijaksana itu.“Ya, Vandy benar. Aku melupakan Tuhan selama tiga tahun terakhir. Aku seolah merasa bisa hidup tanpa Tuhan. Aku tak pernah lagi melibatkan Tuhan dalam setiap masalahku, dalam setiap kehidupanku. Aku melupakan hubunganku, sebagai makhluk ciptaan-Nya, dengan Tuhan, sebagai penciptaku. Aku menyesal Tuhan!! Ampuni aku Tuhan..” Aku berpikir dan merenungkan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Vandy.“Ray!! Kok, malah bengong lo.. Hahaha..“ Flo yang masih berada di samping Vandy, menyadarkanku dari lamunanku.“Eh, iya Flo, Van. Besok pagi gue pasti dateng keibadah remaja kok. Gue mau mulai pelayanan gue lagi.. Thanks ya, kalian udah mau ngingetin gue.” Kataku pada mereka. “Yaudah, gue pulangduluan ya, udah malem nih.” Lanjutku berpamitan pada mereka berdua.“Oke Ray. Hati-hati lo di jalan.” Jawab Flo sambil tersenyum.“Besok pagi jangan lupa dateng lo.” Kata Vandy seolah melanjutkan kata-kata Flo.Aku segera berjalan menuju parkiran gereja menghampiri motorku yang sudah siap mengantarku pulang. Kunyalakan motorku dan segera kutinggalkan gedung gereja untuk menuju rumahku yang berjarak lumayan jauh dari tempat ini.
***
Pagi ini, aku bangun dengan semangat baru. Iya, semangat pelayanan yang dulu pernah ada dalam hatiku, namun perlahan menghilang ditelan masalah yang kuhadapi. Namun hari ini, aku bertekad untuk memulai pelayananku kembali dengan semangat yang sama namun dengan komitmen yang baru. Komitmen untuk tidak lagi kalah dengan masalah yang mungkin saja akan menghambat pelayananku. Kulihat jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 05.15. Masih terlalu pagi memang untuk bersiap-siap memulai pelayananku di ibadah remaja, namun hal tersebut tidak lantas membuatku berniat untuk meneruskan tidurku kembali.Segera kuambil handphone-ku, kusiapkan aplikasi Alkitab digital di dalamnya, dan kubuka buku renungan harian yang menjadi bahan renungan untuk hari ini. Setelah semua kusiapkan, segera kulipat tanganku, kututup mataku, dan mengawali renungan hari ini dengan doa. Sekitar 15 menit berlalu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan yang menjadi bahan renungan hari ini. Tidak lupa segera kuakhiri renungan dengan doa syukur atas penyertaan Tuhan hingga saat detikini. Kembali kutengok jam dinding yang menunjukkan putul 05.43. Segera ku melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk mandi dan mempersiapkan diriku di ‘debut kedua’ pelayananku di ibadah remaja.Waktu terus berlalu, tanpa ku sadari jarum jam telah menunjukkan pukul 07.00. Segera kusisir rambutku mengakhiri rangkaian persiapanku sebelum berangkat ke gereja untuk pelayanan di ibadah remaja. Setelah semuanya siap, aku berniat membangunkan ibuku untuk berpamitansebelum pergi, namun segera kuurungkan niatku setelah kulihat ibu dan adikku masih tertidur dengan lelapnya.“Biarin deh, nanti aja pamitnya lewat sms.” Batinku menggumam.Segera kuambil motorku, kutuntun agak jauh dari rumah agar suaranya tidak mengganggu tidur ibu dan adikku. Setelah kurasa cukup jauh dari rumah, barulah aku starter motorku dan ku kendarai menuju gereja tercinta.Lima belas menit kemudian, aku sudah tiba di gereja, dan pemandangan pertama yang kulihat adalah Flo dan Vandy yang tampak asik berbincang. Mereka tampak sangat akrab dan tampak mesra seperti pasangan yang sedang pacaran. Aku terpaku, menahan perasaan yang aku sendiri tak mengerti sama sekali.“Inikah rasa cemburu? Mungkinkah aku telah jatuh cinta pada Flo? Secepat inikah perasaan ini muncul??” Pertanyaan-pertanyaan tersebut seketika memenuhi otak dan batinku.Namun sesegera mungkin kubuang jauh-jauh pemikiran tersebut. Tak kupedulikan perasaanku, kulupakan kejadian yang baru saja kulihat tersebut dan langsung kulangkahkan kakiku menuju tempat ibadah remaja diadakan. Kutemui rekan-rekan sepelayananku yang mayoritas sudah kukenal. Dan Puji Tuhan, mereka menerimaku, mereka menerima domba tersesat yang telah kembali pulang, dengan sikap positif. Ibadah dimulai, dan aku memulai pelayanku di ibadah remaja ini sebagai petugas doa persembahan setelah ditunjuk oleh ketua pengurus dari pelayanan remaja. Aku tersenyum, merasa nyaman, merasa diterima, dan merasa dihargai di hari pertama pelayananku di ibadah remaja.
***
Setelah rangkaian ibadah selesai, aku segera mengakhiri pelayananku hari ini dengan bersalaman dengan para pelayan remaja lainnya. Puji Tuhan, akhirnya pelayananku hari ini berjalan dengan baik. Segera kulangkahkan kakiku menuju parkiran, menghampiri motor kesayanganku yang akan membawaku kembali ke rumahku tercinta. Baru saja kurogoh saku celanaku untuk mengambil kunci motorku, terdengar teriakan seseorang memanggilku.”Ray, Rayyy..” Begitulah panggilan itu kudengar samar-samar.Kutolehkan wajahku ke arah suara tersebut berasal. Seperti dugaanku, suara itu memang suara Flo. Suara yang sudah terekam di otakku dan tak mungkin bisa kulupakan. Kulihat dirinyaberjalan ke arahku setengah berlari.“Ada apa Flo?” Tanyaku singkat.“Jalan-jalan yuk. Gue ama Vandy rencananya mau jalan-jalan ke Kota Tua nanti sore. Berangkat sekitar jam 3an. Lo bisa ikut kan? Biar rame Ray. Kan seru kalo ke sananya rame-rame.” Kata Flo menceritakan rencananya.“Jalan-jalan? Bertiga? Ah, males banget gue ikut. Yang ada, nanti gue cuma jadi obat nyamuk doang ini mah. Flo sama Vandy enak pacaran. Lah gue, bakalan makin sakit hati gue ngeliat mereka pacaran. Ah mending gue tolak aja deh ajakannya. Maaf ya Flo, gue cuma nggak mau sakit hati.” Aku berpikir dan memutuskan untuk menolak ajakan Floren.“Ray, kok malah bengong? Bisa kan?” Tanya Flo sambil menepuk bahuku.“Eh, ehm, sekarang jam 11 ya? Wah kayaknya gak bisa deh Flo, gue ada acara ulang tahun temen gue, nanti jam 3an juga. Maaf ya Flo. Lo sih, bikin acara dadakan begini.” Jawabku berbohong. “Ehm, kenapa gak ajak pacar lo aja Flo?” Lanjutku memberi saran sekaligus berharap jawaban dan reaksinya akan menguatkan dugaanku bahwa Flo dan Vandy telah resmi jadian.“Owh gitu ya, yaudah deh kalo gitu, ntar gue pergi ama Vandy aja. Lain kali mudah-mudahanlo bisa ikut. Oke deh Ray, kalo gitu gue pulang dulu ya.” Jawab Flo sekaligus berpamitan pulang, tanpa menjawab pertanyaan terakhirku. Namun setelah beberapa langkah berjalan, Flo menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya ke arahku seolah ada hal yang lupa dia sampaikan.“Oia Ray, by the way, I’m single. Jadi gak mungkin juga ngajak pacar.” Kata Flo dengan tersenyum, lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang.Aku terpaku, menyadari kebodohanku. Iya, kebodohanku karena telah menolak ajakan Floren. Padahal kalau saja aku tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan tersebut, pastinyaaku tak akan menolak ajakan Floren. Dan mungkin aku bisa mendapatkan waktu untuk semakin dekat dengannya. Ini semua karena aku salah menduga kedekatan Vandy dan Flo yang kulihat tadi pagi. Dan sekarang, aku harus melewatkan kesempatan untuk mendekati si single Floren. Hanya penyesalan yang tersisa.Kupandang terus tanpa berkedip, Flo yang terusmelangkah semakin jauh. Kubalikkan tubuhku ke arah motorku. Aku berdoa dalam hati, berharap ada keajaiban yang terjadi. Entah apapun bentuk keajaiban itu. Yang pasti, aku berharap Tuhan memberiku kesempatan kedua untukku dapat mendekati Flo.Namun tampaknya, keajaiban itu takkan pernah ada. Kesempatan tidak datang dua kali dan aku telah melewatkannya. Sekali lagi aku menyesalinya. Namun, tiba-tiba kurasakan tepukan di bahu kananku. Kutolehkan kembali kepalaku dan keajaiban itu ada di hadapanku. Iya, Flo, Floren yang menepuk bahu kananku.“Hei, Ray, untung lo belom pulang. By the way, temenin gue ke toko buku yuk? Mau nyari buku buat kado ultah temen gue besok nih. Bisa kan Ray? Mumpung baru jam 11 nih.” Kata Flo sesaat setelah menepuk bahuku. “Soalnya jam 3 nanti kan gue mau ke Kota Tua ama Vandy, dan lo juga kan harus ke rumah temen lo kan?” Lanjutnya kembali.“Bisa, bisa. Bisa kok Flo, bisa banget. Gue juga rencananya mau ke Toko Buku nih. Tapi tadinyaagak males kalo harus pergi sendirian. Untung lo juga mau ke Toko Buku, jadi ada yang nemenin deh. Hehehe..” Jawabku dengan cepat tanpa terlalu lama berpikir.Kesempatan ini takkan kusia-siakan. Terima kasih Tuhan, Engkau sudah memberi kesempatan kedua kepadaku untuk mendekati Flo.Tiga jam berlalu dengan banyak tawa dan canda. Perlahan aku mulai dekat dengan Flo. Banyak hal yang akhirnya membuatku semakin menyukainya. Selain karena Flo adalah sosok yang ramah dan baik, dia juga teman yang asik. Mencintainya? Mungkin. Tapi, entahlah. Akupunbelum mengerti apa yang sebenarnya kurasa. Entah ini cinta, atau hanya rasa rinduku kepada teman yang sudah lama tak kujumpai. Yang pasti, AKU BAHAGIA.
***
Aku berbaring di tempat tidurku, kulirik jam dinding sudah menunjukkan menunjukkan pukul19.37. Pandanganku menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan terkait di kepalaku bagian belakang. Tersenyum mengingat kembali kejadian yang baru saja berakhir beberapa jam yang lalu di Toko Buku. Flo, ya, sosok gadis manis itu mendominasi pikiranku. Menguasai setiap senti ruangan dalam otakku. Ada rasa yang berbeda saat menghabiskan waktu bersamanya di Toko Buku tadi siang. Apakah aku merasakan cinta? Atau hanya kekaguman semata pada sosok sempurna seorang bidadari tanpa sayap tersebut? Entahlah, yang aku tahu, aku tak bisa melepaskan bayangnya dari pikiranku.“Drrrrrrrr… Drrrrrrrr… Drrrrrrr…” Getar handphone-ku yang sengaja aku silent, menyadarkanku darisemua lamunanku. Ku ambil handphone-ku dan kulihat ada tanda pesan Whatsapp yang masuk.Segera kubuka dan kulihat pesan singkat bertuliskan ‘Test’ dari nomor yang belum aku simpan di kontak. Penasaran dengan pengirim misterius tersebut, segera kulihat foto profil darinomor Whatsapp tersebut. Kulihat sosok seorang wanita menggunakan jersey klub sepakbola Inggris yang terkenal dengan julukan ‘Red Devils’ dalam foto tersebut, memakai topi dengan logo yang sama dengan jersey yang dipakainya, dan tersenyum dengan lesung pipi pada kedua pipinya.Seketika aku tersenyum lebar. Bukan karena jersey yang dipakainya, sama sekali bukan. Hal yang tak akan pernah terjadi sampai kapanpun, mengingat aku adalah seorang ‘The Gunners’, sebutan untuk fans setia Arsenal, klub ‘Meriam London’, rival dari klub yang jersey-nya sedang kulihat saat ini. Senyuman lebarku ini, semata-mata hanya teruntuk sang pemakai jersey yang kulihat pada foto profil tersebut. Ya, tidak salah lagi, sosok pada foto tersebut adalah Flo, Florencia Agusta Aprilia, bidadari manis yang baru saja kembali dekat denganku dua hari terakhir.. Segera kusimpan nomor handphone tersebut pada kontakku dan segera kubalas pesan Whatsaap-nya dengan penuh semangat.“Hei Flo? Kenapa lo? Tumben amat nge-Whatsapp gue. Kangen gue ya? Hahahaha.”Begitulah isi pesan yang kubuat agak terkesan bercanda, dan aku yakin dia juga akan memahaminya sebagai candaan. Kutunggu balasan darinya dan sekitar dua menit kemudian ada balasan darinya.“Woy, Ray, ini gue Vandy. Hahahaha.. Ketipu ama foto profil ya lo? Wkwkwk.. Sengaja gue pasang foto Flo, Biar pada tau, kalo gue udah jadian ama Flo tadi sore di Kota Tua. Hahahaha.” Membaca pesan tersebut, bagaikantersambar petir, seketika aku menjadi kacau, kaget, dan semua perasaan campur aduk dalamhati dan pikiranku. ‘What??? Jadian??? Vandy jadian sama Flo?? Temen baik gue, jadian samaFlo? Kenapa harus Vandy? Kenapa harus Flo?? Kenapa??’ Seketika banyak pertanyaan muncul dalam benakku. Kuabaikan getar handphone-ku dan tak ku pedulikan lagi pesan Whatsapp dari Vandy yang dikirimkan selanjutnya.Aku terdiam, merenung, berbaring, dan kembali menatap langit-langit kamar, dengan posisi yang sama seperti sesaat sebelum getar handphone-ku mengusik ketenanganku. Tapi bedanya, sekarang tatapanku kosong, tak ada lagi senyum mengembang, dan pikiranku bukan lagi didominasi oleh Flo. Semua itu sekejap hilang dan digantikan oleh pertanyaan-pertanyaan yang sampai saat inipun tak mampu kujawab. Pikiranku lelah, dan perlahan mataku terpejam. Aku tertidur.
***
Aku terbangun pagi ini dengan pertanyaan-pertanyaan semalam yang masih belum terjawab. Kulihat jam di dinding kamarku yang menunjukkan pukul 5.40. Waktunya aku bersiap-siap untuk sekolah. Tapi entah mengapa, hari inisemangatku menurun, rasa malasku mencapai titik tertinggi, dan tak ada senyum sama sekali. Ingin rasanya aku melanjutkan tidurku dan menghindar dari sekolah hari ini. Kuambil handphone-ku, kupandangi tiga pesan Whatsapp yang tak kubaca semalam. Malas rasanya aku buka pesan tersebut. Kuletakkan lagi handphone-ku lalu kembali kujatuhkan badanku ke atas kasur.“Ray, bangun. Udah pagi nih. Kamu kan harus sekolah pagi, hari ini. Ayo bangun!” Terdengar suara Ibuku memanggil dan membangunkanku. Ya, itu ibuku, my single parent, sosok terpenting dalam hidupku, inspirasi dalam setiap hal yang aku lakukan.Sembilan tahun sudah berlalu, semenjak ibuku harus rela menjadi single parent atas kedua anaknya, aku dan adik perempuanku. Mendidik dan merawat kedua anaknya seorang diri tanpa ayahku yang meninggal semenjak aku duduk di kelas dua SD. Hingga saat ini, aku sudah hampir menamatkan sekolahku di salah satu sekolah negeri di Jakarta. Kenyataan yang sulit diterima oleh ibuku, menjalankan peran seorangibu dan ayah sekaligus, sendirian, tanpa partner.Melelahkan? Pasti. Aku bisa membayangkan hal tersebut. Namun, tak pernah sekalipun aku mendengar ibuku mengeluh. What an amazing mother! Or I can say that she is the best mom inthe world. Berlebihan? Tidak sama sekali, bahkan kata-kata tersebut belum cukup untuk mendeskripsikannya. She is more than the best.No words can express how the best my mother is.“Iya Bu, aku udah bangun kok dari tadi.” Segera kujawab panggilan ibuku.Ku terduduk sebentar di atas kasurku masih dengan perasaan malas yang menyelimuti. Segera ku niatkan diri untuk meninggalkan kasur ini sendirian, dan mengawali hari yang indah ini. Tapi, wait, ada sesuatu yang lupa aku lakukan. Tapi apa ya? Ku berpikir sejenak, mengingat hal yang aku lupakan pagi ini. Beberapa saat kemudian, aku menepuk dahiku dengan tangan kananku, setelah mengingat sesuatu yang hampir saja terlewatkan pagi ini. Doa, ya, hampir saja aku lupa mengawali hari inidengan doa. Segera ku duduk bersila di atas kasurku, kulipat kedua tanganku, kupejamkan mata, dan mulai mengucapkan doaku.“Terima kasih Tuhan, atas penyertaan-Mu sepanjang malam sehingga aku dapat tidur dengan nyenyak. Dan terima kasih juga karena Kau telah ijinkanku kembali bangun pada pagi hari ini dengan keadaan yang sempurna. Maaf Tuhan, kalo semalam aku lupa berdoa sebelum aku tidur. Aku janji tak akan mengulanginya lagi.Terima kasih Tuhan, AMIN.” Aku berdoa dan bersyukur atas berkat-Nya sampai pada detik ini. Tak lupa juga aku mohon ampunannya atas kelalaianku semalam yang tertidur tanpa berdoa.Aku tersenyum, menyadari ada sesuatu yang berbeda setelah aku berdoa. Aku lebih semangat sekarang, menyadari hidupku bukan sekedar memikirkan Flo. Karena yang terpenting untuk dipikirkan dalam hidup, adalah kehidupan itu sendiri. Segera kulangkahkan kakiku, mengawali hari dengan senyum yang tetap lebar, meskipun tak ada yang berubah darikenyataan semalam. Ya, kenyataan bahwa Flo dan Vandy sudah jadian.
***
Jam di handphone-ku menunjukkan pukul 16.47,saat aku tiba di rumah sepulang sekolah. Segera kujatuhkan tubuhku di sofa yang terdapat di ruang tamu, mengistirahatkan tubuhku yang sangat lelah menjalani aktivitas sepanjang hari ini. Kulihat lagi handphone-ku dan masih kulihat tanda pesan Whatsapp yang belum kubuka sejak semalam. Tapi ada yang berubah, ya jumlah pesan yang sebelumnya hanya tiga, kini berubah menjadi angka empat, dan semuanya dari satu nama kontak yang sama. Nama Flo tertera dalam kontak tersebut. Memang nama tersebut belum aku ganti sejak semalam, walaupun aku tahu bahwa nomor tersebut adalah milik Vandy.Sejujurnya aku masih sangat malas membuka pesan Whatsapp tersebut. Ingin rasanya aku langsung menghapusnya tanpa membaca isi pesannya terlebih dahulu. Baru saja aku berniat menghapusnya, tapi handphone-ku kembali bergetar, dan sekejap angka empat berubah menjadi angka tujuh.“What? Tujuh pesan tak terbaca? Ngapain sih Vandy nge-Whatsapp sampe tujuh kali begini? Ah paling mau pamer doang dia. Mentang-mentang udah jadian ama Flo.” Aku bertanya dan menggerutu dalam hati dengan agak jengkel.“Ray, sori. Barusan handphone gue dibajak Vandy.” Kubaca isi pesan pertama yang semalam tidak sempat kubaca. “Lo tau kan Vandy orangnya iseng.” Sambungnya di pesan yang dikirimkan selanjutnya. Lalu dilanjutkan dengan pesan ketiga yang hanya bertuliskan dua kata “Sori yaaa!!”Setelah membaca tiga pesan tersebut, aku semakin penasaran untuk membaca empat pesan selanjutnya. Dan betapa terkejutnya aku, saat melihat pesan keempat sampai dengan ketujuh yang isinya tak pernah kuduga sama sekali sebelumnya. Setelah kubaca keempat pesan terakhir, senyumku kembali mengembang, jantungku kembali berdetak cepat dan otakku semakin penuh dengan bayangan Flo. Aku semakin yakin nomor ini benar-benar milik Flo, dan tampaknya aku memang sedang benar-benar jatuh cinta padanya.Kubaca sekali lagi keempat pesan dari Flo yangterakhir. Pesan pertama bertuliskan ‘Bangun woy, udah pagi!! Hahaha.. Have a nice day!’ Dan diikuti dengan kiriman dua foto dirinya sedang bergaya dengan jersey kebanggaannya berlambang ‘Setan Merah’ dengan dua pose yang berbeda, diakhiri dengan pesan berupa pertanyaan ‘Bagusan yang mana Ray? Mau gue jadiin foto profil Whatsapp nih.’Tak ada yang istimewa memang dari keempat pesan tersebut. Hanya pesan biasa yang sebenarnya bisa saja dianggap tanpa makna apapun. Namun, bagi orang yang sedang jatuh cinta, hal sekecil apapun dari orang yang dicintai bisa dianggap sangat istimewa bagi mereka. Tak terkecuali aku, Raynard Silva , seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada Flo, seorang bidadari manis tanpa sayap.
***
Inikah namanya cinta, inikah cinta. Cinta pada jumpa pertama. Inikah rasanya cinta, inikah cinta. Terasa bahagia saat jumpa, dengan dirinya.Aku terbaring di tempat tidurku, dengan earphone terpasang di telinga, terdengar alunanlagu ME dari earphone yang terhubung dengan MP3 di handphone-ku. Teringat semua kejadian malam itu, kejadian saat ku berjumpa pertama kali dengan Flo, di ibadah pemuda. Tanpa kusadari, aku tersenyum. Tiba-tiba saja aku teringat pesan Whatsapp dari Flo yang sedari tadi belum kubalas.Segera ku ambil handphone yang tergeletak di sampingku, di kasur, tempat ku membaringkan tubuhku saat ini. Segera ku ketik balasan Whatsapp darinya, namun belum sempat kutekan tombol ‘send’, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Vandy. Ada keraguan dalam hatiku untuk menjawab panggilan tersebut, atau membiarkannya sampai terputus sendiri. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menjawabnya.“Hei Ray, sibuk gak lo? Temenin main PS yuk. Gue udah di tempat PS biasa nih.” Kata Vandy dari seberang telepon, sesaat setelah panggilannya kuangkat, bahkan sebelum aku mengucapkan sepatah katapun.“Tapi, Van .. “ Baru saja aku berniat menolaknya dengan alasan yang masuk akal, namun Vandy sudah memotong omonganku.“Pokoknya gue tunggu di sini. Cepet lo dateng. Udah dulu ya, pulsa gue abis nih.” Kata Vandy memotong omonganku, dan panggilan telepon darinya langsung terputus.“Dasar Vandy, belom sempet gue ngomong, udah nyerocos aja dia.” Aku menggerutu dalam hati karena kejadian yang baru saja terjadi.Segera ku bangkit dari tempat tidurku, dan bersiap untuk ke rental PS, tempat aku dan Vandy biasa bermain PS. Malas, ya, sebenarnyaaku malas untuk keluar rumah malam ini, tapi ya sudahlah, toh besok hari libur, jadi aku tak perlu takut bangun kesiangan. Segera kukendarai motor kesayanganku menuju tempatrental PS yang berjarak 10 menit perjalanan darirumah.
***
Sesampainya di rental PS, segera kuhampiri Vandy yang sedang bermain sendiri di depan TV no 6 yang berada di ujung sebelah kanan. Kutepuk bahu kanannya, tapi bukan untuk menghipnotis, hanya untuk sekedar menyapa Vandy yang sedang sangat serius bermain PS.“Woy Van. Serius amat.” Kataku mengagetkannya bersamaan dengan tepukan dibahu kanannya.“Oi Ray, ngagetin aja lo. Jadi kebobolan kan tuh.” Katanya yang sedang bermain game FIFA edisi terbaru, menggunakan klub Arsenal, yang juga menjadi klub favoritnya.“Hahaha.. Santai Van, masih unggul 2-1 kan. By the way, tumben amat, lo ngajakin gue main PS. Kenapa lo?” Tanyaku pada Vandy dengan agak sedikit curiga.“Lo gak suka Flo kan Ray?” Tiba-tiba pertanyaanitu meluncur dari mulut Vandy. Diletakkannya joystick PS yang masih di tangannya, Vandy menolehkan kepalanya dan menatapku dengan wajah sangat serius, lalu mengulangi pertanyaan yang sama, dengan intonasi bicara yang lebih serius. “Ray, lo gak suka ama Flo kan?”Aku terdiam. Aneh rasanya mendengar pertanyaan tersebut dari mulut sahabatku. Pertanyaan sederhana itu mengacaukan isi otakku. Entah apa yang harus ku jawab. Aku bingung. “This condition makes me so confused. I don’t know what I have to do. God, please help me.”“Ray, jawab dong. Malah bengong. Lo gak suka ama Flo kan? Lo cuma anggep Flo,temen doangkan?” Tanya Vandy sekali lagi, dengan nada bicara yang agak lebih tinggi.“Hah? Kenapa Van? Flo? Ya gak lah. Aneh banget pertanyaan lo. Kenapa tiba-tiba lo nanyagitu? Lo suka ama Flo?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.Entah kebodohan apa lagi yang aku lakukan. Mengapa mulut ini tak mampu berkata jujur. Andai saja aku mampu mengulang waktu, tentu aku akan memilih untuk jujur. Sayangnya, waktuterus berjalan tanpa mampu diulang. Sekarang, aku hanya bisa berharap, semoga dugaanku tentang rasa suka Vandy terhadap Flo semuanya salah.“Gak apa apa sih Ray. Sebenarnya sih, iya, gue suka ama Flo. Tapi kemarin waktu jalan-jalan berdua di Kota Tua, Flo tuh nanyain tentang lo terus. Kayaknya dia suka ama lo deh. Tadinya sih, kalo emang lo suka ama Flo juga, ya gue akan coba relain Flo buat lo dan gak akan deketin Flo lagi. Tapi, untungnya lo gak suka ama Flo, jadi gue masih punya kesempatan buat deketin Flo deh. Ya kan Ray?” Kata Vandy menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya kepadaku.Aku tak mampu berkata-kata. Semuanya sudah terlambat, tak ada yang mampu kulakukan selain diam dan diam. Sampai akhirnya Vandy melanjutkan omongannya tentang rencananya.“Eh, Ray, by the way, besok libur kan ya? Gue mau ngajakin Flo buat ketemu ah. Gue mau nembak dia.” KatanyaBagaikan disambar petir, aku terkejut dan semakin merasa terluka. Entah apa yang harus kulakukan. Lagi-lagi aku hanya bisa diam, tanpakata, menahan setiap rasa sakit yang sedang membelenggu hatiku, saat ini. Ya, kenyataan ini perlahan membunuhku. Dan penderitaanku tak berakhir sampai di sini. Kejutan berlanjut saat Vandy kembali mengatakan kalimat selanjutnya.“Oia, Ray, lo besok temenin gue buat ketemuan ama Flo ya. Bantuin buat ngeyakinin Flo kalo gue bener-bener serius sayang ama dia. Ntar gue traktir deh, kalo lo berhasil bantuin gue ngeyakinin Flo. Hehehehe.. Gimana? Mau kan?” Lanjutnya.Aku hanya mengangguk pelan, tanpa daya. Aku terdiam, seolah ribuan pisau sekejap menusuk hatiku. Sakit rasanya mengetahui yang akan terjadi. Aku tertegun, tatapanku kosong, menyadari kebodohanku membuatku kehilangan segalanya. Entahlah, aku gila, otakku penuh, hatiku menangis. Tapi, semuanyasudah terjadi. Aku sadar, aku bodoh. Andai saja aku jujur. Dan sekarang, andai hanya akan tetapmenjadi andai, kenyataannya telah terjadi.“Woi Ray! kok malah bengong. Yuk main. Gue pake Arsenal ya.” Kata Vandy membuyarkan pikiranku.“Eh. Kenapa Van? Oh iya, gue pake Juventus aja.” Kataku berusaha menyembunyikan kegundahanku.Mataku menatap layar TV, tanganku menekan joystick PS, tapi otakku belum selesai memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Andai saja, andai saja, dan andai saja. Ya, otakku masih berandai-andai walaupun aku tahu, aku baru saja menghancurkan semua mimpiku.
***
Malam ini aku hanya dapat berdoa semoga yang baru saja terjadi hanya mimpi. Namun akusadar, aku tak bisa lari dari kenyataan. Kenyataan bahwa besok aku harus memperjuangkan Flo. Iya, memperjuangkan Flo,tapi bukan untuk menjadi milikku, melainkan untuk menjadi milik Vandy, teman baikku,Ada kebimbangan dalam diriku antara harus membantu Vandy mendapatkan cinta Flo, atau menghancurkan pertemananku dengannya dan berjuang untuk perasaanku sendiri. Entahlah, otakku sudah terlalu lelah untuk memikirkan haltersebut. Biarlah semuanya terjadi begitu saja, besok. Perlahan mataku tertutup dan akhirnya aku tertidur.
***
“Flo, sebenernya, gue sayang banget ama lo. Lo mau gak jadi pacar gue?” Vandy berlutut di depan Flo, menengadahkan kepalanya ke arah wajah Flo, menatap matanya sangat dalam, danmemegang setangkai mawar merah dengan kedua tangannya. Berharap Flo mau menerima cintanya.Semua adegan itu tersaji di depan mataku. Sederhana memang, hanya dengan setangkai bunga. Tapi cukup membuatku terluka, membuat hatiku merasa teriris dan merasakan kesakitan yang tak terbatas, tak mampu terungkapkan dengan kata-kata.Vandy mengalihkan pandangannya ke arahku, memberiku kode untuk meyakinkan Flo agar mau menerima Vandy menjadi kekasihnya. Aku menarik nafas, berusaha menyembunyikan setiap kesakitan yang ada. Di tengah kebimbangan yang ada, aku mampukan diriku untuk berkata-kata.“Iya Flo, Vandy beneran sayang banget ama lo. Dia sering cerita ke gue tentang perasaannya kelo. Dan gue yakin dia serius sayang ama lo.” Kata-kata itu keluar dari mulutku.Vandy tersenyum, merasa puas dengan semua kata-kata yang keluar dari mulutku. Kulihat matanya memohon kepadaku untuk melanjutkan kata-kata yang akan membuat Flo semakin yakin untuk menerima cintanya.“Tapi,” Aku melanjutkan kata-kataku. “Tapi, gue juga sayang ama lo Flo. Kita emang baru deket lagi selama beberapa hari ini. Tapi setiap detik waktu yang gue jalani bareng lo, adalah detik-detik yang istimewa buat gue. Setiap tawa yang gue lalui bersama lo, adalah tawa terindah dalam hidup gue, dan setiap senyum yang gue lihat dari bibir lo, adalah senyum termanis yang pernah gue lihat selama gue hidup. Gue tahu ini terlalu cepat, tapi gue gak bisa bohongin perasaan gue. Gue sayang ama lo, gue cinta ama lo.” Aku menarik nafas, menahan setiap dilema yang ada. Kualihkan pandanganku ke arah Vandy.“Van, gue tahu ini mungkin gak adil buat lo. PDKT lo berbulan-bulan, gue rusak hanya dengan PDKT gue yang cuma beberapa hari. Tapi, sekarang biarkan Flo yang memilih antara gue atau lo. I know, I’m not a good friend, but sorry, gue gak bisa bohongin perasaan gue. Guejuga sayang ama Flo, gue sayang banget ama Flo. Sori Van, gue…”“Ray, sejahat itukah lo? Nikung temen baik lo demi kesenengan lo sendiri? Lo pikir, PDKT lo yang cuma beberapa hari, cukup untuk membuat gue mengalihkan perasaan gue? Lo salah Ray, satu-satunya cinta yang gue punya sekarang, cuma buat Vandy. Dan jujur, gue kecewa ama lo. Gue pikir lo temen yang baik buat gue dan Vandy. Tapi ternyata, lo cuma sampah yang gak pantes dianggap temen.” Kata Flo memotong kata-kataku.“Flo bener Ray. Lo gak pantes dianggap temen. Padahal gue udah percaya banget ama lo, untukbantuin gue ngeyakinin Flo. Tapi ternyata lo malah berusaha ngerebut Flo dari gue. Gue kecewa Ray.” Vandy menimpali kata-kata Flo.“Udah Van, mending kita pergi aja yuk. Percumangomong ama sampah yang bisanya cuma jadi pengkhianat” Kata Flo sambil menggandeng lengan kanan Vandy dan pergi meninggalkanku sendiri.Aku berdiri, terpaku, terdiam. Meresapi setiap kata-kata yang baru saja kudengar dari kedua temanku tersebut. Pikiranku kacau, otakku penuh, dan aku tak tahu harus berkata apa. Air mataku perlahan menetes, menyadari semua hal yang baru saja terjadi.“Rayy...Ray ..” Kudengar suara ibuku memanggil. Kucari arah suara itu, tapi tak kutemukan sosok Ibuku.
***
“Ray .. bangun Ray .” Kembali kudengar suara ibuku. “Udah siang, cepet bangun.” Lanjut suaraibuku. Tubuhku terasa diguncangkan dengan lembut. “Bangun Ray, ada telepon tuh dari Vandy” Lanjut ibuku.Aku membuka mata, tersadar dari semua mimpiburukku. “Untunglah itu semua hanya mimpi. Puji Tuhan, itu bukan kenyataan.” Kataku dalam hati, bersyukur bahwa yang baru saja aku alami,bukanlah kenyataan.“Iya Bu.” Jawabku singkat. Segera aku bangun dan menuju ruang tamu untuk menjawab telepon dari Peter.“Kenapa Van?” Kuambil gagang telepon dan kutanyakan tujuan Vandy meneleponku.“Ray, lo baru bangun? Cepet lah siap-siap sana. Katanya mau bantuin gue nembak Flo.” Jawab Vandy dari balik telepon.Mataku yang sedari tadi masih belum sepenuhnya terbuka, tiba-tiba terbelalak mendengar kata-kata Vandy. Rasa sakit itu kembali muncul. Kebimbanganku kembali datang, dan bayang-bayang mimpi buruk itu kembali hadir. Entah, apa yang harus ku perbuat. Aku kehabisan akal. Aku terpaku sesaat, terdiam, dan tak berkata-kata.“Woy, Ray! Kok diem?” Lanjut Vandy, mengagetkanku.“Eh, iya Van, iya.” Hanya kata-kata itu yang keluar daari mulutku.“Yaudah, gue tunggu di gereja ya, jam 10. Gue udah janjian ama Flo buat ketemu di gereja. Yaudah, udah dulu ya. Pulsa gue habis.” Lanjut Vandy, lalu memutus panggilan teleponnya.Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 08.30. Masih ada waktu untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke gereja, sebelum hatiku benar-benar tersakiti, sebelum semua mimpiku beberapa hari ini hanya sekedar menjadi mimpi,dan sebelum aku harus benar-benar membunuhsemua rasaku untuk Flo. Aku menghela nafas, mencoba tersenyum dalam kesedihan hati yangamat luar biasa.
***
“Flo, tempat ini yang menjadi awal dimana perasaan ini muncul. Tempat ini juga yang menjadi tempat dimana perasaan gue bertumbuh, dari sekedar suka menjadi perasaansayang yang luar biasa. Dan gue selalu memimpikan, tempat ini juga yang akhirnya menjadi akhir bahagia dari setiap perjuangan gue, dari setiap tetes peluh yang menetes dalam setiap usaha gue untuk mendapatkan cinta sejati. Flo, gue sayang ama lo. Gue beneran sayang banget ama lo. Lo mau kan jadipacar gue?” Kata Vandy sambil berlutut, memegang setangkai mawar merah, dan menatap mata Flo, dengan penuh harap.Pemandangan di depan mataku ini, sama sekalitak asing untukku. Iya, adegan ini sangat mirip dengan apa yang aku lihat dalam mimpi burukku. Sama persis bahkan, jika aku melanjutkan dengan kata-kataku yang di dalam mimpiku. Tapi, apakah akan berakhir dengan cara yang sama juga? Entahlah, kebimbanganku kembali muncul, antara harus mengalah, atau memperjuangkan cintaku dengan resiko yang sudah tampak dalam mimpiku. Sampai akhirnya…..Vandy menatap ke arahku. Tidak berkata apapun memang. Namun tatapan itu dengan jelas mengatakan “Ray, please make her sure toaccept me to be her boyfriend.”Aku mengerti maksud Vandy. Aku bingung, bimbang, galau. Teringat kembali setiap konsekuensi yang terjadi dalam mimpiku. Entahlah, apa aku harus meresikokan diriku untuk kehilangan kedua temanku ini demi memperjuangkan cintaku, atau aku harus melupakan semua perasaanku, dan merelakan mereka menjadi sepasang kekasih.Aku, untuk kesekian kalinya, menghela nafas, berharap ini semua hanya mimpi, dan itu berarti,aku berharap mimpi yang tadi, adalah mimpi dalam mimpi, iya mimpi berlapis. Agak aneh memang harapanku yang satu ini. Tapi, aku tersadar, kali ini bukanlah mimpi. Aku harus segera mengambil keputusan untuk membantu Vandy mendapatkan cintanya atau memperjuangkan Flo untuk diriku sendiri. Akhirnya kuputuskan untuk mengorbankan perasaanku.”Iya Flo, Vandy bener. Dia beneran sayang ama lo. Dan gue yakin, lo berdua bakalan jadi pasangan yang serasi.” Kataku mencoba meyakinkan Flo.Walaupun agak berat rasanya mengatakan hal tersebut di depan gadis yang aku sayang. Tapi aku harus melakukan hal tersebut. Aku tak mau merusak pertemanan yang ada. Aku takut mimpiku menjadi kenyataan. Aku tersenyum, mencoba menutupi semua ketidak relaanku.“Van, sekarang gue yakin, lo beneran sayang ama gue. Walaupun perasaan gue sebenernya belom bisa sayang sepenuhnya ama lo, tapi gueakan berusaha untuk belajar buat sayang ama lo. Gue mau jadi pacar lo Van.” Jawab Flo menerima cinta Vandy.Hatiku hancur mendengar kata-kata tersebut. Namun tak ada yang mampu kulakukan selain tersenyum melihat kebahagiaan mereka berdua.Terpaksa tersenyum? Mungkin. Tapi aku tak pernah menyesali hal yang baru saja kulakukan.Setidaknya aku telah berbuat satu kebaikan untuk temanku.“Ray , thanks ya. Udah bantuin gue ngeyakinin Flo buat nerima cinta gue. Lo emang teman gue yang paling baik. Traktirannya besok ya Ray. Hehehehe…” Kata Vandy sesaat setelah menghampiriku dan menepuk bahuku. Aku hanya bisa tersenyum tanpa kata.
“Flo,jalan-jalan yuk. Gue mau ngerayain hari jadian kita. Hehehe….” Kata Vandy kepada Flo.Flo mengangguk, lalu berkata, “Boleh Van, tapi anterin gue pulang dulu ya. Mau ganti baju dulu nih.”“Oke.” Jawab Vandy singkat.Vandy menggandeng mesra Flo, meninggalkanku sendiri. Aku hanya bisa melihat mereka semakin jauh dan jauh. Namun, tiba-tiba langkah mereka terhenti. Flo berbalik, menghampiriku dan meninggalkan Vandy sendirian. Entah apa maksudnya.“Ray, makasih ya. Lo udah meyakinkan gue untuk menerima orang yang sayang sama gue. Walaupun gue tau, perasaan gue ini bukan untuk Vandy. perasaan gue ini, sebenernya untuk orang yang dari dulu gue sayang tapi sempat menghilang dan baru ketemu lagi beberapa hari ini. Tapi buat gue, It’s better to be loved by someone than loving someone who never love me.” Kata Flo sambil memegang tanganku.Kulihat matanya berkaca-kaca. Aku menyesal harus membuatnya terluka. Kupikir, hanya akan ada satu hati yang terluka, tapi aku salah. Ternyata hanya ada satu hati yang bahagia. Dan mungkin ketiga hati akan terluka jika Vandy tahu apa yang terjadi. Tapi semuanya sudah terjadi dan aku harus ikhlas menghadapi ini semua.Flo mengecup pipi kananku dan langsung berlari meninggalkanku untuk kembali menghampiri Vandy. Sekali lagi, aku hanya bisa menatap mereka berjalan semakin menjauh. Aku sadari sekarang, kenyataan hidup tak seindah FTV yang selalu berakhir bahagia. Mungkin kalau ini adalah FTV, aku bukanlah peran utama. Aku hanyalah peran pelengkap yang ada hanya untuk patah hati di akhir cerita.Aku tersenyum, mengingat semua hal yang barusaja kulalui. Aku memang tak mendapatkan Flo untuk jadi kekasihku. Tapi setidaknya aku belajar bagaimana cara menghargai pertemanan, bagaimana seharusnya kejujuran diungkapkan, dan bagaimana cinta tak harus memiliki. Inilah hidup, penuh misteri, dan masih akan banyak misteri di masa depan. :)
Kerenn...
BalasHapusPanjang amat
BalasHapus